Tak terasa, lebih dari 24 purnama telah berlalu. Melangkahkan kaki menjalani apa yang telah dicita-citakan sejak Ayah masih berada disampingku. Sejak Ayah pergi, Aku kehilangan arah. Tak ada tempat Aku bersandar dan bercerita tentang pencapaian yang telah ku gapai hingga rencana kedepannya. Seakan-akan kehidupan tanpa rencana hingga takdir membawa langkahku hingga ke tempat ini. Tempat yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Meskipun ditemani air mata, Aku melangkahkan kakiku untuk menuju tempat ini. Tempat yang baru dengan ragam perbedaan dan hal-hal baru membuatku harus banyak beradaptasi. Seakan, Aku melukis cerita baru dengan kuas lama. Aku benar-benar masing terbayang-bayang dengan deretan mimpi yang pernah Ku rencanakan. Membuka lembaran-lembaran ingatan, seakan Aku tak pernah berpikir berada di kondisi ini. 

              Hari silih berganti seakan begitu cepat ditemani harapan-harapan yang sudah ditutup rapat-rapat. Sembari berjalan, Aku mencoba sembuh dengan menerima perjalanan yang telah ditakdirkan. Hari demi hari, mendidikku menjadi terbiasa dan menjadi lebih tenang. Wajah murung yang hadir dipagi hari mulai berubah menjadi ceria seiring waktu. Mencoba berdamai dengan kesepian. Mencoba berdamai dengan kesendirian. Ruang pikiran yang terlalu ribut dengan ragam rencana seakan menjadi sepi tanpa suara. Semua pergi tanpa ada komunikasi juga tak ada sahabat yang bertanya kabar. Saat mencoba bercerita, seakan menambah luka yang belum benar-benar sembuh. Semakin lama, semakin hening. 
             Luka-luka seakan sembuh dengan sendirinya. Mencoba menerima dan berdamai dengan takdir kehidupan. Butuh waktu untuk benar-benar berdamai. Aku hanya punya rencana, Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik untukku. Percaya bahwa akan ada kemudahan disetiap kesulitan. Ketenangan seakan hadir setelah bersyukur atas apa yang sedang dijalani. Kehidupan seakan tidak terburu-buru. Kehidupan seakan tidak diributkan dengan berbagai aktivitas. Jiwa yang tenang dari ributnya kendaraan yang ada diperkotaan juga tenang dalam beribadah. Aku selalu mencoba melihat hal-hal positif yang bisa dipelajari di perjalanan ini. 

            Ketenangan itu bukan bertemu begitu saja. Peran lingkungan yang selalu mendampingi dan memberikan kekuatan yang membuat hati lebih tenang. Aku melihat hal-hal baik yang dimiliki teman-teman baru disekitarku. Aku mencoba berdamai dengan kondisi-kondisi yang mungkin menghambat aktivitas, namun itulah seni yang sedang Aku pelajari untuk bersabar dan menjalani kehidupan dengan lapang dada. 

           Hari yang sempat tak berwarna, kini telah kembali berwarna dengan kehangatan keluarga baru. Rekan kerja yang selalu hadir mendampingi layaknya keluarga. Kehadiran sosok ayah dan sosok sahabat menjadikan hari-hari semakin ceria. Mereka yang selalu menjadi pendengar dan penghibur dikala sepi.  

            Kami dipertemukan tanpa sengaja dan tanpa ikatan darah, namun kasih sayangnya layaknya keluarga. Selalu memberikan ruang untuk bercerita dan berkeluh kesah. Sosok Ayah yang selalu memperhatikan perkembangan putranya. Setiap hari selalu bertanya tentang kabar dan memberikan nasehat untuk lebih baik. Tak hanya itu, sosok sahabat yang selalu memberikan hal-hal positif dan membantu dikala kesulitan. "Pulang, seakan ketemu keluarga dan lebih dekat kepada-Nya". Proses ini membuatku banyak belajar dan lebih imbang dalam menjalani kehidupan.