Setibanya di kosan, aku berberes dan mengemas berbagai barang pribadi. Aku sejenak beristirahat karena lelah. Sore pun tiba, Aku pergi ke studio untuk berfoto. Seorang diri mengabadikan moment berharga dalam kehidupan.
Beberapa kemudian, Aku kembali ke kampung halaman. Pulang dengan berbagai harapan dan cita-cita. Setibanya di rumah, Aku merawat Bapak dan mencoba tes kesana kemarin. Setahun berlalu, seakan tak tercapai satupun dari harapan. Semua tes diikuti gagal. Setiap bulan juga menginap di rumah sakit bersama Bapak. Kondisi Bapak semakin menurun. Akhirnya Aku melamar sebagai guru honorer di salah satu sekolah dekat dengan rumah. Sembari mengajar, Aku sering izin saat Bapak drop.
Idul Fitri terakhir bersama Bapak, Aku rayakan di rumah sakit. Hari demi hari, kondisi Bapak semakin menurun. Saat mulai membaik, Ia meminta pulang. Beberapa hari di rumah, Ia berpamitan untuk pergi selamanya.
Lima tahun berlalu, seakan hidup tanpa arah. Sosok tempat untuk berdiskusi dan mengambil keputusan, seakan tak ada lagi. Sosok yang setia mendengar, menasehati dan mengarahkan seakan tak ada lagi. Hidup seakan tak ada arah dan tak ada tempat bersandar.
Suatu hari, Aku bertemu dengan seseorang yang menyapaku dengan panggilan "nak". Jarang sekali Aku merasakan sosok yang telah hilang beberapa tahun ini. Seseorang yang selalu menanyakan kabar dan selalu meluangkan waktu mendengarkan setiap cerita dan keluh kesah ku. Kehadirannya seakan mengisi tempat yang kosong setelah kepergian Bapak.
Tak ada ikatan darah namun kehadirannya melebihi dari keluarga. Kehangatannya memberikan kedamaian. Selalu memberikan ruang untuk berpendapat dan berdiskusi.
Saat Aku sakit, selalu khawatir dan memberikan kalimat penuh makna. Setelah sekian lama, kehilangan sosok Bapak. Bolehkah, Aku panggil Ayah.
0 Komentar